Oleh : Fathul Rakhman*

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita (ummat Islam) banyak menghabiskan energi untuk mengatasi munculnya aliran yang (di) sesatkan. Persoalan tersebut cukup menguras energi, membuat resah ummat dan dapat mendatangkan anarkisme massal. Selain itu, kita juga disibukkan dengan proses pilkada, sebagai mayoritas umat beragama di negara ini, kita melalui partai politik berlabel Islam sibuk untuk dapat beperan dalam politik praktis. Seolah-olah kegiatan utama kita adalah memerangin kesesatan dan menjadi pemaian di pentas politik.

Ditengah kesibukan tersebut, kita dikejutkan oleh beberapa kasus kesehatan yang membuat pemerintah kebakaran jenggot. Kasus Polio di Jawa Barat, Busung Lapar yang hampir disetiap propinsi, Demam Berdarah yang kembali mengganas, Flu Burung yang kembali menghantui, HIV/AIDS yang sudah tidak malu-malu lagi untuk tampil, KLB Diare di beberapa daerah dan ada banyak kasus kesehatan lain yang mungkin tidak terlacak oleh media.

Tentu ini sangat ironi mengingat negara kita yang katanya kaya raya dengan sumberdaya alam justru tertimpa musibah penyakit – penyakit “orang miskin”. Dan lebih menyakitkan lagi justru yang terkena adalah saudara kita yang Muslim. Hal ini tentu menjadi dilematis mengingat jumlah terbanyak penduduk Indonesia adalah beragama Islam.

Kesehatan Ummat
Saya merasa sangat sedih ketika kita sebagai umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa terhadap saudara kita yang tertimpa musibah tersebut. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendemo kebijakan Amerika terhadap Irak dan Afganistan, para ulama sibuk membuat fatwa aliran ini sesat perbuatan itu haram, sehingga kita –sepertinya- melupakan kasus yang menimpa saudara di dekat kita.

Kasus busung lapar merupakan contoh bahwa kepedulian sosial kita rendah sesama ummat, padahal jika kita memberikan sedikit nafkah pada saudara kita tentu tidak akan sampai terjadi busung lapar. Kita menganggap bahwa Islam adalah melulu urusan ibadah shalat,puasa, haji dan urusan sosial adalah urusan pemerintah. Padahal kalau kita melihat Al-Qur’an bahwa ibadah vertikal dan horizontal harus berjalan seiring, bahkan tidak sah ibadah vertikal jika tidak diiringi ibadah horizontal ( QS. 107 : 1-7).

Isu – isu kesehatan di Indonesia seharusnya menjadi perhatian Ormas-Ormas Islam mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Gerakan dakwah seharusnya bukan hanya ditujukan pada seputar ibadah saja akan tetapi juga menyangkut masalah-masalah sosial, kesehatan salah satunya. Pemberdayaan ummat untuk mencapai masayarakat madani (civil society) tentu hanya akan menjadi utopis jika kualitas SDM kita buruk. Kualitas SDM tersebut dipengaruhi oleh kualitas kesehatan, disamping pendidikan dan ekonomi. Jika kesehatan ummat terpenuhi tentunya ini akan lebih memudahkan untuk melaksanakan aktivitas yang lainnya.

Islam, melalui Ormas Islam hendaknya mampu menempatkan diri sebagai yang terdepan dalam advokasi bidang kesehatan. Memang selama ini ada beberapa kegiatan sosial yang menjadi ujung tombak dalam pelayan sosial terhadap ummat, akan tetapi yang spesifik menangani kesehatan belumlah memadai. Muhammadiyah walaupun sudah ada RS Islamnya, akan tetapi cenderung RS tersebut sebagai badan usaha. Sehingga fungsi pelayanan kesehatan menyeluruh tidak bisa terpenuhi.

Tentunya untuk melakukan advokasi kesehatan ini membutuhkan tenaga yang ahli pada bidangnya. Sudah banyak ummat Islam kini yang ahli dalam bidang ini, sehingga yang dibutuhkan adalah adanya wadah yang bisa menampung tenaga ahli tersebut. Ormas Islam bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga kesehatan baik pemerintah maupun swasta.

Kedepan diharapkan Ormas Islam bisa lebih mandiri untuk mengelola usaha-usaha advokasi kesehatan dan bisa menjadi ujung tombak dalam peningkatan kualitas kesehatan ummat. Mengingat selama ini kedekatan Ormas dengan pengikut (masyarakat), hal ini bisa menjadi faktor penguat (Strength) dan kesempatan (Opportunity) dalam upaya-upaya tersebut. Tinggal bagaimana memadukan agar dakwah (ibadah) bisa jalan dan fungsi pelayanan sosial bisa berjalan seiring. Dan jika kedua hal ini bisa tercapai maka masayarakat madani bukan lagi menjadi impian, akan tetapi menjadi kenyataan.

Tantangan Ke Depan
Masih banyak isu-isu kesehatan yang masih menjadi PR bagi ummat Islam. Belum adanya tafsir terhadap isu – isu kesehatan merupakan penghambat kemajuan Islam dalam bidang kesehatan. Selain menjadi alat advokasi kesehatan, Islam juga dituntut untuk mampu memberikan jawaban terhadap isu – isu kesehatan kontemporer. Selama ini dikalangan ummat Islam masih banyak terjadi perdebatan seputar isu ini.

Beberapa isu kesehatan kontemporer yang mesti dibuatkan penafsiran adalah seputar kesehatan reproduksi, alat kontarasepsi [masih banyak perbedaan pendapat], penanganan Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS, Transplantasi Organ, Sistem Pengobatan Modern dan isu yang lebih besar seputar bayi Tabung dan Kloning serta Rekayasa Genetika.

Ditengah kebuntuan para ahli memberikan solusi terhadap hal tersebut, seharusnya Islam bisa memberikan alternatif.

*Fathul Rakhman. Pengiat Jaringan Masyarakat Marginal (JMM) Lombok. Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas.